A Hopeful Transmission I want to change the world! Nope, I’m not the bad guy from superhero movies who want to take the world in his hand. Yeah, I just want to change some aspect of the world. In my field, Yes, electricity. First, I want to thank to somebody who invent the cable and the usage. Thanks for the late electrical engineers who had found the idea to spread the electricity to homes and factories by three-phases methods through the wire.In my dream, I won’t let someone cried through the wire, missing the beloved ones. No needs of joking, let’s be serious then :p In the third semester of my college time, I took the subject ‘Electric Circuits’ as a-must-take-subject. From the subjects, I’ve studied concepts used in electricity, such as three-phases, frequency responses, etc.. But what took me to my dream is, when I studied the chapter of frequency responses. While I studied as preparations for the exams, I just found out the idea to make the world less wired.  I read that there are some filters, bandpass filters, highpass filters, lowpass filter, bandstop filter, etc.. I just imagined, maybe.. these filter used for the Wi-Fi connection. Then I realized, how if we spread the electricity like the way we communicate by internet — electromagnetics, wireless way— ? I imagined that in a building/room, there is some server, or something which has the function as someething to spread the electricity. It’s like the modem or the router in wireless internet. The electricity will be spread via electromagnetic wave — just in my imagination, not sure if it will work out— just like the signal for internet usages. Then, in the electric devices, like PCs, tablets, radios, televisions, inside them there are some circuits to receive the frequency of the wave which sends the electricity. The circuit is more like a bandpass filter, and of course it’ll be more complex. The electricity then will be processed to be in the form of electricity phase, just like the electricity we use usually. So, there’s no need to plug the the cable of TVs, no need to get into fight of taking electric socket (just like the college students do :)) ) to charge their laptops. And for me, as a music lovers, just run anywhere you want to while performing on stage, rockers! It’s because they don’t have to plug on the guitars to the amplifiers - I think this wat has been found, eh :p -.  Here’s the diagram chart of my idea. But there are some aspects to be considered besides the technical things. I wonder will it effect the organisms, especially the humans who wish to use this thing? I wonder if the wave may spread the kind of radiations which the cellphones spread. So, for the biomedical engineer, or someone who master this effect, this is the homework to finish, then. All right reserved :)

A Hopeful Transmission

I want to change the world!

Nope, I’m not the bad guy from superhero movies who want to take the world in his hand. Yeah, I just want to change some aspect of the world. In my field, Yes, electricity.

First, I want to thank to somebody who invent the cable and the usage. Thanks for the late electrical engineers who had found the idea to spread the electricity to homes and factories by three-phases methods through the wire.In my dream, I won’t let someone cried through the wire, missing the beloved ones. No needs of joking, let’s be serious then :p

In the third semester of my college time, I took the subject ‘Electric Circuits’ as a-must-take-subject. From the subjects, I’ve studied concepts used in electricity, such as three-phases, frequency responses, etc.. But what took me to my dream is, when I studied the chapter of frequency responses. While I studied as preparations for the exams, I just found out the idea to make the world less wired. 

I read that there are some filters, bandpass filters, highpass filters, lowpass filter, bandstop filter, etc.. I just imagined, maybe.. these filter used for the Wi-Fi connection. Then I realized, how if we spread the electricity like the way we communicate by internet — electromagnetics, wireless way— ?

I imagined that in a building/room, there is some server, or something which has the function as someething to spread the electricity. It’s like the modem or the router in wireless internet. The electricity will be spread via electromagnetic wave — just in my imagination, not sure if it will work out— just like the signal for internet usages. Then, in the electric devices, like PCs, tablets, radios, televisions, inside them there are some circuits to receive the frequency of the wave which sends the electricity. The circuit is more like a bandpass filter, and of course it’ll be more complex. The electricity then will be processed to be in the form of electricity phase, just like the electricity we use usually. So, there’s no need to plug the the cable of TVs, no need to get into fight of taking electric socket (just like the college students do :)) ) to charge their laptops. And for me, as a music lovers, just run anywhere you want to while performing on stage, rockers! It’s because they don’t have to plug on the guitars to the amplifiers - I think this wat has been found, eh :p -. 

Here’s the diagram chart of my idea.

But there are some aspects to be considered besides the technical things. I wonder will it effect the organisms, especially the humans who wish to use this thing? I wonder if the wave may spread the kind of radiations which the cellphones spread. So, for the biomedical engineer, or someone who master this effect, this is the homework to finish, then.

All right reserved :)

Speaking about environment… Gw lagi pengen ngebahas dikit-dikit tentang permasalahan lingkungan. Here they come, through my mind. 1. Sampah numpuk Gw kepikirannya ada tong sampah, bisa ukuran kecil, sedang, gede, tergantung tempatnya. Si tong sampah itu punya semacam saluran gitu ke dalam tanah. Jadi kalo udah numpuk, sampah yang paling bawah bakal otomatis (ada sebuah sistem, mesin, seperti biasa :D) masuk ke lubang di bawahnya. Kayaknya buat sampah organic, tumpukan sampah ini bisa dijadiin semacam kompos. Dan buat sampah anorganik, gw pengennya si sampah-sampah anorganik ini bisa dipilah-pilah lagi buat di-recycle. Supaya bisa di-recycle, pengennya sih si tong sampah ini punya semacam sensor buat milah sendiri sampah-sampahnya. Sampah plastic, kaleng, karet ban, kotak minuman, kertas, dipisah-pisahin agar bisa kepakai lagi, bisa direcycle dengan mudah. Sistem ini sisi positifnya bisa menyelesaikan masalah bau sampah yang ditimbulkan. Kalo bisa sih di dalam tanah itu juga ada sistem buat ngebakar sampah itu juga hahaha. 2. Aliran air kotor Gw pengennya sih ada sistem yang (lagi-lagi) bisa mensensor apakah air buangan itu air kotor atau bukan. Sayang kan kalo air buangan yang masih bersih (misalkan air wudu) disatuin dengan air kotor? Mending air buangan yang masih bersih itu dipake buat nyiram tanaman atau apa kek. Kalo udah disensor, si air itu berdasarkan jenisnya bakal disatuin sesuai jenisnya di suatu tempat dan dialirkan sesuai nasibnya. Yang maish bersih dialirkan ke manaa gitu yg membutuhkan air bersih itu, yang kotor ya dibuang. 3. Pembersihan sungai Sejujurnya gw gatel banget ngeliat sungai2 yang iuuhh kotornya ga nahan . Gw pengen bisa menciptakan sebuat tablet/pil yang kalo dimasukkin ke sungai si sungainya jadi bersih kayak mejiik hahaha -___-. Hmm, kayaknya ada cara lain. Si sungai itu dibikin ada gatenya, kayak air di waduk gitu (kalo ga salah). Nah setelah si gate itu di-turn on, air di sungai itu ga bisa keluar. Airnya abis itu disterilkan. Pertama air di sungai itu ‘dikuras’ atau mungkin disedot, dipindahin ke tangki gede. Tapi yang terakhir kayaknya ga efisien. Intinya mah dipindahkan sementara. Abis itu si airnya disterilkan, entah dimasukkin tablet tadi, atau lewat sistem atau mesin pensteril yang kayaknya bakal make prinsip dialysis kayak di pencuci darah. Tapi, sistem ini juga bakal sia-sia kalo orang masih buang limbah ke sungai. Mending sih, di pinggir sungai ga boleh dibangun rumah-rumah kumuh. Harus ada batas kira2 500 m dari pinggir sungai untuk bisa ngebangun rumah. Terus air kotor itu ga boleh dialiran ke sungai. Idealnya sih, gitu :P Well, gw baru kepikiran sampe situ. sebenernya gw masih pengen ngebahas asap knalpot cuma ga kepikiran harus gimana. All Rights Reserved!

Speaking about environment…

Gw lagi pengen ngebahas dikit-dikit tentang permasalahan lingkungan. Here they come, through my mind.

1. Sampah numpuk

Gw kepikirannya ada tong sampah, bisa ukuran kecil, sedang, gede, tergantung tempatnya. Si tong sampah itu punya semacam saluran gitu ke dalam tanah. Jadi kalo udah numpuk, sampah yang paling bawah bakal otomatis (ada sebuah sistem, mesin, seperti biasa :D) masuk ke lubang di bawahnya. Kayaknya buat sampah organic, tumpukan sampah ini bisa dijadiin semacam kompos. Dan buat sampah anorganik, gw pengennya si sampah-sampah anorganik ini bisa dipilah-pilah lagi buat di-recycle. Supaya bisa di-recycle, pengennya sih si tong sampah ini punya semacam sensor buat milah sendiri sampah-sampahnya. Sampah plastic, kaleng, karet ban, kotak minuman, kertas, dipisah-pisahin agar bisa kepakai lagi, bisa direcycle dengan mudah. Sistem ini sisi positifnya bisa menyelesaikan masalah bau sampah yang ditimbulkan. Kalo bisa sih di dalam tanah itu juga ada sistem buat ngebakar sampah itu juga hahaha.

2. Aliran air kotor

Gw pengennya sih ada sistem yang (lagi-lagi) bisa mensensor apakah air buangan itu air kotor atau bukan. Sayang kan kalo air buangan yang masih bersih (misalkan air wudu) disatuin dengan air kotor? Mending air buangan yang masih bersih itu dipake buat nyiram tanaman atau apa kek. Kalo udah disensor, si air itu berdasarkan jenisnya bakal disatuin sesuai jenisnya di suatu tempat dan dialirkan sesuai nasibnya. Yang maish bersih dialirkan ke manaa gitu yg membutuhkan air bersih itu, yang kotor ya dibuang.

3. Pembersihan sungai Sejujurnya gw gatel banget ngeliat sungai2 yang iuuhh kotornya ga nahan . Gw pengen bisa menciptakan sebuat tablet/pil yang kalo dimasukkin ke sungai si sungainya jadi bersih kayak mejiik hahaha -___-. Hmm, kayaknya ada cara lain. Si sungai itu dibikin ada gatenya, kayak air di waduk gitu (kalo ga salah). Nah setelah si gate itu di-turn on, air di sungai itu ga bisa keluar. Airnya abis itu disterilkan. Pertama air di sungai itu ‘dikuras’ atau mungkin disedot, dipindahin ke tangki gede. Tapi yang terakhir kayaknya ga efisien. Intinya mah dipindahkan sementara. Abis itu si airnya disterilkan, entah dimasukkin tablet tadi, atau lewat sistem atau mesin pensteril yang kayaknya bakal make prinsip dialysis kayak di pencuci darah. Tapi, sistem ini juga bakal sia-sia kalo orang masih buang limbah ke sungai. Mending sih, di pinggir sungai ga boleh dibangun rumah-rumah kumuh. Harus ada batas kira2 500 m dari pinggir sungai untuk bisa ngebangun rumah. Terus air kotor itu ga boleh dialiran ke sungai. Idealnya sih, gitu :P

Well, gw baru kepikiran sampe situ. sebenernya gw masih pengen ngebahas asap knalpot cuma ga kepikiran harus gimana.

All Rights Reserved!

Flying Shoes Yak inilah ide gw berikutnya. Namanya agak lebay sih, ga sesuai dengan yg bakal gw deskripsiin. Tapi itulah yg baru kepikiran :D Awalnya, pas gw masuk universitas, gw menyadari kenyataan kampus gw bahwa kampus gw yaa… nyapein lah kalo dipake jalan :P (padahal ga segede UI atau UGM juga sih hihi). Trus, kampus gw tuh banyak banget tangganya. Cape deeh.. Lalu, terpikirlah ide ini. Jadi gw pengen buat sepatu yang si orangnya ga usah jalan. gimana yah? Jadi intinya si orang ga usah ngelangkahin kakinya, kayak di mobil aja gitu. Oke, sepatunya itu bisa disetting dengan mode berjalan atau riding. Maksudnya mode walking adalah, ya jadi si pemakainya make sepatu itu kayak sepatu biasa aja, tetep jalan kaki. Mode riding itu ya si pemakainya make, si sepatu itu yang ngegerakin. Karena ada 2 mode itu, di sepatu bakal ada sebuah switch untuk mengubah mode-nya. Selain itu si sepatunya bisa diatur2 kecepatannya. ga jauh bedalah dengan skate board Detective Conan, tp ini sepatu. Nah gimana kalo ada tangga? Ada beberapa konsep. Yang pertama, kalo mau naik/turun tangga ya dari sepatu itu akan ‘transformasi’ gitu. Jadi ada semacam papan skate gitu. Yang kedua, si pemakainya tinggal loncat gitu (agak riskan sih). jadi di sepatunya kayak ada semacam gas yg memakai konsep roket. trus pas udah ngapung, tinggal di arahin aja ama si pemakainya. Yang ketiga ini ga efisien sih. jadi, kalo mau naik tangga, si pemakainya itu kayak ngelemparin tancepan gitu ke puncak si tangga, ga jauh beda dengan yg apa tuh namanya, panjat tebing gitulah. trus si talinya ditarik, dengan adanya momentum/impuls, si pemakai akan ketarik. Baru kepikiran sampe sini sih. All Rights Reserved!

Flying Shoes

Yak inilah ide gw berikutnya. Namanya agak lebay sih, ga sesuai dengan yg bakal gw deskripsiin. Tapi itulah yg baru kepikiran :D

Awalnya, pas gw masuk universitas, gw menyadari kenyataan kampus gw bahwa kampus gw yaa… nyapein lah kalo dipake jalan :P (padahal ga segede UI atau UGM juga sih hihi). Trus, kampus gw tuh banyak banget tangganya. Cape deeh..

Lalu, terpikirlah ide ini. Jadi gw pengen buat sepatu yang si orangnya ga usah jalan. gimana yah? Jadi intinya si orang ga usah ngelangkahin kakinya, kayak di mobil aja gitu.

Oke, sepatunya itu bisa disetting dengan mode berjalan atau riding. Maksudnya mode walking adalah, ya jadi si pemakainya make sepatu itu kayak sepatu biasa aja, tetep jalan kaki. Mode riding itu ya si pemakainya make, si sepatu itu yang ngegerakin.

Karena ada 2 mode itu, di sepatu bakal ada sebuah switch untuk mengubah mode-nya. Selain itu si sepatunya bisa diatur2 kecepatannya. ga jauh bedalah dengan skate board Detective Conan, tp ini sepatu.

Nah gimana kalo ada tangga?

Ada beberapa konsep. Yang pertama, kalo mau naik/turun tangga ya dari sepatu itu akan ‘transformasi’ gitu. Jadi ada semacam papan skate gitu. Yang kedua, si pemakainya tinggal loncat gitu (agak riskan sih). jadi di sepatunya kayak ada semacam gas yg memakai konsep roket. trus pas udah ngapung, tinggal di arahin aja ama si pemakainya. Yang ketiga ini ga efisien sih. jadi, kalo mau naik tangga, si pemakainya itu kayak ngelemparin tancepan gitu ke puncak si tangga, ga jauh beda dengan yg apa tuh namanya, panjat tebing gitulah. trus si talinya ditarik, dengan adanya momentum/impuls, si pemakai akan ketarik.

Baru kepikiran sampe sini sih. All Rights Reserved!

2
Cellphone on Driving Mode Akhirnya bisa ngepost lagi sebuah ide di sini. Yak, konsep ini dilatarbelakangi oleh hobi gw dalam ber-socialnetworking - you name it, twitter, facebook, y!m, sms (ini yang lebih urgent keadaannya biasanya) and all that jazz. Gw ga bisa tiap 5 menit sekali ga ngecek TL di twitter (untungnya kebiasaan ini udah mulai berkurang). Mulai awal tahun ini gw udah mulai bawa mobil sendiri. Muncullah masalah baru:  “Bagaimana kalo ada sms penting datang saat gw nyetir dan butuh dibalas secepat mungkin” Masih mending ada orang yang nebeng di mobil, bisa dimintain tolong bacain sms, ngebalesin. Nah kalo nyetir sendiri gimana?  Karena itu gw punya segelintir ide sederhana. Name it “Cellphone on Driving Mode”. Konsepnya, si mobil itu punya sebuah spot kecil untuk tempat HP. Kalo mau nyetir si HP itu bisa ditaro di sana. Spot kecil itu punya semacam receiver atau sensor. Jadi, kalo HP kita ditaro di sana, dan kita nyalain mesin, si HP itu bakal ngeluarin respon berupa sebuah window keluar di layar HP kayak kalo sms udah delivered. Respon/notification itu isinya Driving Mode: ON.  Si software ini, kalo ada SMS masuk, dia bakal ngeluarin output suara (jadi si device ini menghubungkan HP, speaker, mesin) kayak “Message received from ‘blablabla’ (si pengirim SMS-nya). Do you wish to read it out loud?” Kenapa ‘Do You Wish To Read It Out Loud?’ Yah, namanya aja SMS, pasti ada hal yang berbau ‘pribadi’nya juga dong :p Atau mungkin, bisa aja kan nyetirnya lagi riweuh jadinya susah merhatiin SMSnya. Nah gimana cara responnya itu? Ada dua kemungkinan. Yang pertama, si pengendara make headset yang terhubung dengan si device itu, wireless or wired. Kayaknya enakan wireless sih supaya ga pabelit. Jadi si headset itu terhubung dengan Bluetooth atau semacam itu untuk menyampaikan jawaban si pengendara. Si pengendara tinggal bilang “Yes/OK” kalo emang pengen SMSnya dibacain atau “No” untuk sebaliknya. Kalo abis dibacain, bisa ga dibales, tnp kudu ngetik? nah, di sini ada lagi spesifikasi yang laen. Setelah dibacain, si device itu bakal ngeluarin output suara itu berupa “Do You Wish To Reply?” Nah si pengendara tinggal bilang Yes atau No kayak tadi. Jika “Yes”, si pengendara tinggal omongin atau sebutin aja isi sms balasannya. Di sinilah si device itu perlu digali lebih dalam. Si device itu harus punya algoritma yang bisa menerima output suara, yang ngerti bahasa manusia. Dia harus ngerti, kapan yang kita sebutin itu kata, kalimat, apakah kalimat tanya, dll. Dan dia lebih baik lagi kalau bisa mengidentifikasi output suara pengendara dengan berbagai macam bahasa, ga cuma bahasa Inggris ama Indonesia. Nah, bakal lebih keren lagi kalau si device itu bisa ngedetect beberapa kata tertentu untuk disingkat2, misalnya kalo si pengendara bilang “dengan siapa lo ke sana?”, si device bakal ngetik “dgn syp lo k sn?” untuk ngehemat karakter SMSnya. Berarti, si device itu harus pintar-pintar ‘mempelajari’ bagaimana gaya si pengendara itu mengirim SMS.  Ini sih format buat SMS, kalo Twitter, BBM, facebook mah nurut ajalah formatnya :p soalnya ga jauh beda. Selain itu, gw kepikiran kalo isi SMSnya ditayangin di layar mobil, tapi kayaknya ini bakal bikin pengendara ga fokus nyetirnya. Skarang bisa diliat, rata2 HP punya aplikasi GPS, peta atau sebagainya. Nah dengan device/software ini bakal keren kalo bisa memakai si HP itu untuk alat GPS :)) Dengan ini, gw harap si device/software ini bisa ngebantu pengendara buat berkomunikasi dengan orang lain di saat urgent tanpa membahayakan pengguna jalan lain dan dengan GPSnya, bisa ngebantu pengendara supaya ga tersesat.  All Right Reserved!

Cellphone on Driving Mode

Akhirnya bisa ngepost lagi sebuah ide di sini.

Yak, konsep ini dilatarbelakangi oleh hobi gw dalam ber-socialnetworking - you name it, twitter, facebook, y!m, sms (ini yang lebih urgent keadaannya biasanya) and all that jazz. Gw ga bisa tiap 5 menit sekali ga ngecek TL di twitter (untungnya kebiasaan ini udah mulai berkurang). Mulai awal tahun ini gw udah mulai bawa mobil sendiri. Muncullah masalah baru: 

“Bagaimana kalo ada sms penting datang saat gw nyetir dan butuh dibalas secepat mungkin”

Masih mending ada orang yang nebeng di mobil, bisa dimintain tolong bacain sms, ngebalesin. Nah kalo nyetir sendiri gimana? 

Karena itu gw punya segelintir ide sederhana. Name it “Cellphone on Driving Mode”.

Konsepnya, si mobil itu punya sebuah spot kecil untuk tempat HP. Kalo mau nyetir si HP itu bisa ditaro di sana. Spot kecil itu punya semacam receiver atau sensor. Jadi, kalo HP kita ditaro di sana, dan kita nyalain mesin, si HP itu bakal ngeluarin respon berupa sebuah window keluar di layar HP kayak kalo sms udah delivered. Respon/notification itu isinya Driving Mode: ON. 

Si software ini, kalo ada SMS masuk, dia bakal ngeluarin output suara (jadi si device ini menghubungkan HP, speaker, mesin) kayak “Message received from ‘blablabla’ (si pengirim SMS-nya). Do you wish to read it out loud?” Kenapa ‘Do You Wish To Read It Out Loud?’ Yah, namanya aja SMS, pasti ada hal yang berbau ‘pribadi’nya juga dong :p Atau mungkin, bisa aja kan nyetirnya lagi riweuh jadinya susah merhatiin SMSnya.

Nah gimana cara responnya itu? Ada dua kemungkinan. Yang pertama, si pengendara make headset yang terhubung dengan si device itu, wireless or wired. Kayaknya enakan wireless sih supaya ga pabelit. Jadi si headset itu terhubung dengan Bluetooth atau semacam itu untuk menyampaikan jawaban si pengendara. Si pengendara tinggal bilang “Yes/OK” kalo emang pengen SMSnya dibacain atau “No” untuk sebaliknya.

Kalo abis dibacain, bisa ga dibales, tnp kudu ngetik? nah, di sini ada lagi spesifikasi yang laen. Setelah dibacain, si device itu bakal ngeluarin output suara itu berupa “Do You Wish To Reply?” Nah si pengendara tinggal bilang Yes atau No kayak tadi. Jika “Yes”, si pengendara tinggal omongin atau sebutin aja isi sms balasannya.

Di sinilah si device itu perlu digali lebih dalam. Si device itu harus punya algoritma yang bisa menerima output suara, yang ngerti bahasa manusia. Dia harus ngerti, kapan yang kita sebutin itu kata, kalimat, apakah kalimat tanya, dll. Dan dia lebih baik lagi kalau bisa mengidentifikasi output suara pengendara dengan berbagai macam bahasa, ga cuma bahasa Inggris ama Indonesia. Nah, bakal lebih keren lagi kalau si device itu bisa ngedetect beberapa kata tertentu untuk disingkat2, misalnya kalo si pengendara bilang “dengan siapa lo ke sana?”, si device bakal ngetik “dgn syp lo k sn?” untuk ngehemat karakter SMSnya. Berarti, si device itu harus pintar-pintar ‘mempelajari’ bagaimana gaya si pengendara itu mengirim SMS. 

Ini sih format buat SMS, kalo Twitter, BBM, facebook mah nurut ajalah formatnya :p soalnya ga jauh beda.

Selain itu, gw kepikiran kalo isi SMSnya ditayangin di layar mobil, tapi kayaknya ini bakal bikin pengendara ga fokus nyetirnya.

Skarang bisa diliat, rata2 HP punya aplikasi GPS, peta atau sebagainya. Nah dengan device/software ini bakal keren kalo bisa memakai si HP itu untuk alat GPS :))

Dengan ini, gw harap si device/software ini bisa ngebantu pengendara buat berkomunikasi dengan orang lain di saat urgent tanpa membahayakan pengguna jalan lain dan dengan GPSnya, bisa ngebantu pengendara supaya ga tersesat. 

All Right Reserved!

1
science:

Aside from DNA’s famous double helix, this is probably the most beautiful molecular structure I’ve ever seen. It’s certainly got one of the coolest names: though it’s C60, exactly sixty carbon atoms arranged into a ball, it’s known as buckminsterfullerene, an homage to Buckminster Fuller, he of the geodesic dome. As if that wasn’t cool enough, C60 is the most massive and most complex object ever to have been demonstrated to show a wave-particle duality.
3186
urhajos:

‘Space Capsule’ by Jorge Lopez
17456
ohscience:

Sulfuric acid pools in Ethiopia.
(submitted by erillebe)
9445
KPA SMAN 3 Bdg proudly presents : Angklung Evening Concert 3; on May 7, 2011 @ Teater Terbuka Dago Tea House. CP : Amyra +6282117043545. Vica +628986900094. nadskeeeh: HTM: VIP: 65000 Middle Class: 40000 Regular Class: 30000 Student: 25000 Package: Family: 4 VIP tickets Group: 10 Middle Class tickets don’t miss it, guys! y’all gonna like it!  (Source: nadskeh, via ckocko)

KPA SMAN 3 Bdg proudly presents : Angklung Evening Concert 3; on May 7, 2011 @ Teater Terbuka Dago Tea House. CP : Amyra +6282117043545. Vica +628986900094.

nadskeeeh:

HTM:

VIP: 65000
Middle Class: 40000
Regular Class: 30000
Student: 25000

Package:
Family: 4 VIP tickets
Group: 10 Middle Class tickets

don’t miss it, guys! y’all gonna like it! 

(Source: nadskeh, via ckocko)

24
Angklung Distributor Machine Hmm…. ceunah mah udah ada yang ide bikin ini ya? Atau udah ada? Sekedar iseng memikirkan ini teh. Yah kalo ada ini versi saya :D Jadi… yap as we’ve known angklung adalah salah satu alat musik asal Indonesia. udah 3 taunlah sy berkecimpung di dunia ini dan pernah merasakan pengalaman di bagian teknis atau latian. Seorang pelatih tim angklung punya banyak tugas, salah satunya adalah mendistribusikan angklung dengan baik dan benar. Ngedistribusiin itu maksudnya ngebagiin angklung ke pemain2nya. Biasanya, pemain itu dapet sekitar 4-5 angklung, 1 atau 2 angklung ukuran besar, 2 atau 3 angklung ukuran sedang, dan 1 angklung ukuran kecil. Tantangan ngedistribusiin angklung ini adalah, ribetnya nyocokin angklung yang maennya ga akan tabrakan. Jadi, kalo maen angklung pasti ada nada yang sering bentrok atau maennya hampir barengan atau malah barengan ama angklung lain. Ini dia tantangan lainnya: 1. Angklung yang bernada sama, misal: Angklung no C dan no 6, tidak boleh diberikan kepada 1 pemain karena so pasti bentrok! Bentroknya karena sama2 maen nada yg sama walaupun beda oktaf, dan kalo di aransemen angklung itu, nada yang oktafnya beda tapi nadanya sama2 juga so pasti bakal sering maen membentuk kunci/akor. 2. Angklung yg nadanya beda tapi suka membentuk Akor. Misalnya angklung yang maenin nada C ( Cg, C, 6, 18, 30)  ama angklung yg maenin nada E ( Eg, E, 10, 22 dst). Nah itu kan bisa bikin akor C ( C E G) Atau A minor ( A C E ) dsb. so pasti ini juga bakal sering bentrok. 3. Angklung yang dalam tangga nada berdeketan. misalnya ada angklung nomer X yang maenin nada do di suatu nada dasar. angklung ini ga boleh dipasangin dengan angklung yang maenin nada si atau re, misalnya. 4. Lagu itu nada dasarnya macem2. Ada lagu yang baik hati, nada dasarnya satu sepanjang lagu, ada yg gonta-ganti sepanjang lagu. Kalo misalnya ganti2 nada dasar, harus diperhatikan apakah angklung itu akan bentrok lagi dengan angklung lain di nada dasar yang laen. 5. Angklung yg mainin nada melodi lebih banyak daripada yg maen nada yang lebih rendah atau lebih tinggi. 6. Kalo buat konser, yang artinya 1 tim maenin banyak lagu, nah harus dipertimbangin lagi tuh antar lagunya. Kira2 begitu :D Nah, kepikirannya tuh, bakal dibuat kayak semacam scanner gitu yang bisa baca partitur angklung. Trus hasil scannya tuh jadi input ke sebuah software. Nah si software itu harus disusun menggunakan algoritma2 dengan tantangan di atas. Selain itu, jumlah pemain juga harus diinput, supaya jelas ngedistribusiinnya. Nah, trus tnggal tunggu aja deh distribusinya :)) Hmm kayaknya terlalu simpel ya? sy sendiri masih gatau bikin algoritmanya gimana hahaha.. This is just idea. Kalo ada alat ini, pelatih bakal lebih santai :)) All Right Reserved!

Angklung Distributor Machine

Hmm…. ceunah mah udah ada yang ide bikin ini ya? Atau udah ada? Sekedar iseng memikirkan ini teh. Yah kalo ada ini versi saya :D

Jadi… yap as we’ve known angklung adalah salah satu alat musik asal Indonesia. udah 3 taunlah sy berkecimpung di dunia ini dan pernah merasakan pengalaman di bagian teknis atau latian.

Seorang pelatih tim angklung punya banyak tugas, salah satunya adalah mendistribusikan angklung dengan baik dan benar. Ngedistribusiin itu maksudnya ngebagiin angklung ke pemain2nya. Biasanya, pemain itu dapet sekitar 4-5 angklung, 1 atau 2 angklung ukuran besar, 2 atau 3 angklung ukuran sedang, dan 1 angklung ukuran kecil.

Tantangan ngedistribusiin angklung ini adalah, ribetnya nyocokin angklung yang maennya ga akan tabrakan. Jadi, kalo maen angklung pasti ada nada yang sering bentrok atau maennya hampir barengan atau malah barengan ama angklung lain.

Ini dia tantangan lainnya:

1. Angklung yang bernada sama, misal: Angklung no C dan no 6, tidak boleh diberikan kepada 1 pemain karena so pasti bentrok! Bentroknya karena sama2 maen nada yg sama walaupun beda oktaf, dan kalo di aransemen angklung itu, nada yang oktafnya beda tapi nadanya sama2 juga so pasti bakal sering maen membentuk kunci/akor.

2. Angklung yg nadanya beda tapi suka membentuk Akor. Misalnya angklung yang maenin nada C ( Cg, C, 6, 18, 30)  ama angklung yg maenin nada E ( Eg, E, 10, 22 dst). Nah itu kan bisa bikin akor C ( C E G) Atau A minor ( A C E ) dsb. so pasti ini juga bakal sering bentrok.

3. Angklung yang dalam tangga nada berdeketan. misalnya ada angklung nomer X yang maenin nada do di suatu nada dasar. angklung ini ga boleh dipasangin dengan angklung yang maenin nada si atau re, misalnya.

4. Lagu itu nada dasarnya macem2. Ada lagu yang baik hati, nada dasarnya satu sepanjang lagu, ada yg gonta-ganti sepanjang lagu. Kalo misalnya ganti2 nada dasar, harus diperhatikan apakah angklung itu akan bentrok lagi dengan angklung lain di nada dasar yang laen.

5. Angklung yg mainin nada melodi lebih banyak daripada yg maen nada yang lebih rendah atau lebih tinggi.

6. Kalo buat konser, yang artinya 1 tim maenin banyak lagu, nah harus dipertimbangin lagi tuh antar lagunya.

Kira2 begitu :D

Nah, kepikirannya tuh, bakal dibuat kayak semacam scanner gitu yang bisa baca partitur angklung. Trus hasil scannya tuh jadi input ke sebuah software. Nah si software itu harus disusun menggunakan algoritma2 dengan tantangan di atas. Selain itu, jumlah pemain juga harus diinput, supaya jelas ngedistribusiinnya. Nah, trus tnggal tunggu aja deh distribusinya :))

Hmm kayaknya terlalu simpel ya? sy sendiri masih gatau bikin algoritmanya gimana hahaha.. This is just idea. Kalo ada alat ini, pelatih bakal lebih santai :))

All Right Reserved!

3
inothernews:

FIRE / WIRE   A long-exposure photo of the launch of the Russian Soyuz TMA-21 spacecraft, named after cosmonaut Yuri  Gagarin, carrying the International Space Station (ISS) crew of U.S.  astronaut Ronald Garan, Russian cosmonauts Alexandr Samokutyaev and  Andrey Borisenko, at the Baikonur cosmodrome in Kazakhstan on  April 5, 2011.  (Photo: Shamil Zhumatov / Reuters via BoingBoing)


bella!
9953